5 Manajer Terbaik Dalam Satu Dekade Terakhir

Sepakbola saat ini memang telah berbeda dengan satu dekade yang lalu dimana kini telah berevolusi dengan caranya sendiri. Pasalnya kini olahraga tersebut lebih mementingkan hasil, yang ditunjukkan dengan pencapaian peringkat di liga domestik, bahkan di tingkat Internasional. Takkan ada lagi keterikatan emosional hubungan menajer dengan klub seperti Arsenal-Wenger, Manchester United -Sir Alex Ferguson. Bahkan walaupun telah memenangkan berbagai kompetisi domestik, bisa saja pelatih tersebut dipecat karena melewatkan sebuah gelar juara. Namun setidaknya dalam satu dekade terakhir. ada manajer yang luar biasa membawa klub meraih kejayaan dan inilah lima manajer terbaik dalam satu dekade terakhir.

5. Luis Enrique – FC Barcelona

Mantan gelandang serang Real Madrid dan Barcelona ini telah membuat namanya melambung tinggi setelah membawa Barca di puncak kejayaan setelah mengalami musim yang buruk pada kampanye 2013/14 yang mengerikan di bawah Gerardo Tata Martino. Saat itu ia mengambil alih kursi panas di Camp Nou pada tanggal 19 Mei 2014.

Luis Enrique meraih treble 2014-15 bersama Barcelona

Luis Enrique meraih treble 2014-15 bersama Barcelona

Di musim pertamanya itu, ia bahkan mampu meraih treble, memenangkan tiga kompetisi dalam satu musim, yaitu, La Liga, Copa del Rey dan Liga Champions. Ia menyelamatkan mantan klub dari kesengsaraan dan meracik formula apik antara pemain bintangnya Lionel Messi, Luis Suarez dan Neymar.

Namun, gaya  sepakbola yang bukan tiki-taka (gaya permainan sepak bola yang cirinya adalah umpan-umpan pendek, pergerakan yang dinamis, mengoper bola melalui beragam kemungkinan, dan mempertahankan penguasaan bola) tidak diterima dengan baik oleh para pemain dan para penggemar. Bahkan beberapa pemain juga tak menyukainya di ruang ganti.

Di musim keduanya ia bertanggung jawab, Ia mencoba menginspirasi tim lebih jauh lagi, namun Ia terus-menerus terus kehilangan wibawa di ruang ganti. Dan pada kampanye ketiganya pada tanggal 1 Maret 2017 lalu, Enrique mengumumkan bahwa dirinya tak memperpanjang lagi kontraknya dengan Barcelona, setelah musim itu berakhir. Ia membawa Barca dengan hanya dengan piala Copa del Rey di musim 2016-17, dan sepertinya keputusan pisah adalah solusi terbaik bagi kedua belah pihak.

Meskipun demikian, Enrique telah memenangkan lebih dari 76 persen pertandingan yang melibatkannya di semua kompetisi, pencapaian tertingginya disepanjang karirnya. Ia pun tetap menjadi salah satu manajer terbaik dan kini ia diangkat menjadi pelatih timnas Spanyol.

4. Diego Simeone – Atletico Madrid

Simeone merupakan salah satu manajer yang paling diremehkan saat ini. Mantan pemain Sevilla, Atletico, Inter Milan dan Lazio memang baru memegang kepelatihan dalam jangka lama di Atletico, dimana ia ditugaskan pertama kali pada tanggal 23 Desember 2011.

Di musim perdananya, ia memimpin mantan klubnya itu menuju kejayaan Liga Europa, mengalahkan Athletic Bilbao 3-0 di final. ia menambahkan trofi lainnya di awal musim 2012, dalam bentuk Piala Super UEFA, mengalahkan Chelsea dengan skor 4-1. Kemudian pada bulan Mei 2013, tim memenangkan Copa del Rey setelah mengalahkan Real Madrid di Santiago Bernabeu. Atletico pun menempati posisi ketiga liga domestik, menghantui Madrid dan Barcelona. Dan pada kampanye 2013-14 lalu, ia membawa musim yang luar biasa bagi pasukannya mengangkat trofi La Liga.

Diego Simeone saat memenagkan gelar La Liga 2013-14

Diego Simeone saat memenagkan gelar La Liga 2013-14

Simeone juga membawa Atletico mencapai final Liga Champions pada musim yang sama, bahkan mengungguli mereka di babak pertama, namun akhirnya mereka harus takluk menghadapi Real Maddrid setelah gol penyeimbang dan kebobolan tiga gol lagi di babak penambahan waktu. Ia pun kembali membawa Atletico ke final Liga Champions lainnya, pada musim 2015/16, menghadapi Real Madrid lagi, dan mereka kalah saat adu penalti. Di musim lalu pelatih asal Argentina itu membawa timnya memenangkan gelar Liga Eropa.

Memang pencapaiannya tidak terlalu cemerlang seperti pelatih lainnya namun sangat luar biasa bagi seorang manajer mengelola tim dengan kendala keuangan seperti di Atletico. Ia pun masih bersama klub hingga musim panas 2020 mendatang.

3. Jupp Heynckes – FC Bayern Munich

Jarang ada pelatih yang direkrut kemudian dilepaskan sebanyak empat kali seperti Heynckes. Walaupun sebelumnya ia membawa Bayern Munich meraih gelar juara Bundeliga sebanyak dua kali, namun dikedatangan ketiganya di Alianz Arnea, membuatnya berada di puncak kejayaan karirnya, tepatnya pada musim 2012-2013 lalu.

Memang panggilan ketiganya jatuh pada tanggal 25 Maret 2011, dimana ia menggantikan Louis Van Gaal sebagai manajer Munich yang memasuki musim 2011-12 . Namun musim itu adalah bencana besar bagi klub karena mereka kehilangan gelar juara Bundesliga dan DFB Pokal saat menghadapi rival senegaranya yaitu Borussia Dortmund. Saat ia membawa timnya menuju final Liga Champions menghadapi Chelsea, mereka kalah saat adu penalti.

Ia pun melanjutkan musim berikutnya dengan perkasa dimana ia meraih gelar juara Bundesliga, pada 6 April 2013. Kemudian saat menjalani Liga Champions, Bayern mengalahkan tim favorit Barcelona di semifinal dengan agregat 7-0 . Dan saat mencapai final, mereka menghadapi Borussia Borussia Dortmund dan memenangkannya dengan skor 2-1, meraih piala kelima untuk kompetisi itu. Ia pun menambahkan satu lagi Piala di DFB Pokal, yang melengkapi treble di klubnya. Namun ia mengundurkan diri karena tak ingin melatih lagi, dan menunjuk Pep Guardiola sebagai penggantinya.

Jupp Heynckes dan berbagai piala bersama Bayern Munich

Jupp Heynckes dan berbagai pialanya saat bersama Bayern Munich

Bayern tetap satu-satunya tim Jerman yang memenangkan treble hingga saat ini dan ia bisa dibilang manajer terbaik yang dimiliki Bayern dalam waktu yang lama.

2. Pep Guardiola – FC Barcelona

Ajaib, memukau, tidak mungkin nyata adalah bagaimana para penggemar sepakbola menggambarkan Guardiola saat mengelola Barcelona. Ia ditunjuk pada bulan Mei 2008 lalu sebagai manajer skuad senior Barca untuk menggantikan Frank Rijkaard pada akhir musim 2007-08. Dia membuat keputusan besar dengan tidak menjaga Ronaldinho, Deco dan Samuel Eto’o sebagai bagian dari rencananya, namun Itu memicu dimulainya era baru di klub. Para pemain asuhannya  sempat mempermalukan rivalnya Real Madrid dengan skor 6-2 saat meraih gelar di liga Spanyol. Ia pun kemudian menyelesaikan kemenangan treble saat mereka mengalahkan Manchester United 2-0 di final Liga Champions, dengan gelar Copa del Rey yang kurang lebih menjadi formalitas bagi mereka saat itu.

Tito Vilanova dan Pep Guardiola saat meraih treble 2013-14 bersama Barcelona

Tito Vilanova dan Pep Guardiola saat meraih treble 2013-14 bersama Barcelona

Tercatat Ia menyelesaikan tahun kalender 2009 dengan enam trofi, menjadi satu-satunya manajer yang berhasil melakukan hal tersebut dalam sejarah klub dalam dua tahun. Dia juga yang termuda untuk melatih tim yang memenangkan Liga Champions.

Namun 2009-10 tak terlalu cemerlang baginya karena ia hanya mengangkat trofi La Liga, namun di musim berikutnya, ia melanjutkan kejayaan klubnyda dengan meraih gelar Liga Champions kedua dalam tiga tahun, dengan mengalahkan Manchester United lagi. Pada Mei 2011, Barcelona memenangkan gelar ketiga La Liga secara beruntun.

Kampanye 2011-12 bersama Barcelona merupakan kampanye terburuk baginya dimana ia menghadapi banyak kritikan karena taktiknya, dimana Barcelona absen di Liga Champions dan La Liga. Namun, dia sempat memenangkan Copa del Rey sebagai trofi terakhirnya, dan juga piala ke-14 sebagai manajer Barcelona.

Meskipun demikian, hal tersebut, membuatnya menjadi manajer paling sukses dalam sejarah klub. Sayang pada tanggal 27 April 2012, Guardiola mengumumkan pengunduran diri sebagai pelatih Barcelona di akhir musim.

1. Zinedine Zidane – Real Madrid

Raksasa La Liga ini juga menjadi salah satu kekuatan yang tak dapat dihentikan dalam beberapa tahun terakhir, dan sebagian besar pujian diberikan kepada mantan bos mereka yaitu Zidane. Pemain legenda Prancis itu telah dipromosikan ke tim utama Madrid setelah menjadi pelatih di Real Madrid Castilla pada tahun 2016. Ia ditunjuk pada tanggal 4 Januari 2016, untuk menggantikan Rafael Benitez yang membawa Los Blancos ke jurang kekhawatiran.

Dalam pertandingan perdananya menghadapi Barcelona, Zidane mengakhiri status tak terkalahkan Barcelona setelah 39 pertandingan mereka tak pernah menang. Ia pun membawa Madrid menyelesaikan musim tersebut sebagai peringkat kedua La Liga namun berhasil memenangkan gelar Liga Champions dengan mengalahkan Atletico Madrid melalui adu penalti. Zidane pun menjadi pemain ketujuh yang mengangkat trofi baik sebagai pemain dan manajer.

Pada 2016-17, Ia memiliki catatan kemenangan yang menakjubkan, dimana Ia tak terkalahkan selama 40 pertandingan secara beruntun, melampaui prestasi Barcelona di musim sebelumnya. Bahkan di musim yang sama, ia membawa Madrid mengangkat gelar La Liga ke-33 mereka dan Piala Dunia Klub FIFA, dan memenangkan final Liga Champions menghadapi Juventus dengan skor 4-1. Madrid pun menjadi klub pertama yang mempertahankan mahkota Liga Champions UEFA. Dengan Piala Eropa ke-12 itu membuat Zidane menjadi Pelatih Pria FIFA Terbaik tahun 2017.

Sayang musim 2017-18 menjadi musim buruk baginya dimana ia dikritik karena taktiknya yang tidak terorganisasi. Pada satu titik di musim ini, Real berada di luar empat besar di La Liga namun berhasil mengakhirinya dengan peringkat ketiga. Meskipun demikian, Ia masih membawa gelar juara Liga Champions setelah mengalahkan Bayern Munich di babak semi final dan menaklukkan Liverpool dengan skor 3-1. Zidane pun menjadi manajer pertama yang memenangkan trofi dalam tiga musim secara beruntun. Pada tanggal 31 Mei, lima hari setelah final Liga Champions, Zidane mengumumkan pengunduran dirinya sebagai manajer Real Madrid. Bisa dipastikan saat itu merupakan masa keemasan Real Madrid yang sulit terulang lagi.

Zinedine Zidane saat meraih piala Liga Champions ketiga dengan  Real Madrid

Zinedine Zidane saat meraih piala Liga Champions ketiga dengan Real Madrid

Walaupun sebenarnya masih banyak lagi manajer yang bergelimang piala bersama klub papan atas Eropa, namun itulah analisa kami tentang lima manajer terbaik dalam satu dekade terakhir. Bagaimana menurut Anda?

About The Author